....................................................

Maaf, Sayang...
Aku bukanlah sampah yang bisa kaupungut atau kaubuang seenaknya!!

Jumat, 08 Oktober 2010

Memaku Bayang

Zahir kembali menyeruput sewadah 'liquid' hitam, pekat yang sama dengan samudera bintang. Dua bola bulat di wajah sendunya membesar, menyorot kosong langit-langit ruang persegi 4x3m. Menerawang. Membasahi memori petang.

Kala itu sketsa cahaya mata Zahir terlukis lagi di retinanya, setelah lenyap trilliunan detik. Resah buncah kalut karam rindu melabuh. Mungkin tahun ini dapat menali, mengikat erat, menyatu jiwa dengan gadis elok yang ditinggal merantau ke seberang oleh kekasih.



Tiiiinn..
Rizka terkejut. Manusia mungil berjubah merah muda di belah lengannya menjerit namun sejurus ia matikan itu tangis. Terlukis setetes amarah di wajah cantik belia berambut gelombang itu.
Rizka menoleh.
Takjub. Amarah sirna. Aduhai, tiada terbaca awan. Penyulam hatinya kembali.

Bahagia memang namun pertemuan terlalu genit menyayat jiwa. "Mengapa harus sekarang?," Rizka membatin.

Zahir keluar dari sedan hitam; menghampiri Rizka.
"Riz ..."
"Sudahlah!," Rizka menyela,
"Jangan ganggu saya lagi!"
Seketika tapak penggerak pemuda tampan itu memaku bumi.
"Kamu kenapa?"
"..."
"Tidak pernah memberi kabar kepada saya. Apa Kamu tidak tahu risau hati saya; galau menanti berita darimu. Surat-surat saya pun tidak pernah Kamu balas atau menelepon saya pun tak Kamu lakukan. Apa Kamu lupa jan..."
"Sudahlah! Sudah cukup! Jangan ganggu saya lagi! Sekarang saya sudah punya anak."
Zahir syok. Jantungnya berdegup bak genderang, yang ditabuh sebelum perang. Lidah mengelu. Mata terpaku. Bibir bergetar bisu.
"Apa Kamu sadar? Aku pun sama!", bulir bening mengintip dari bingkai bulatan wajah Rizka.
"Tiap kutelepon, tiap kusurat, tidak berbalas. Tidak pernah!"
"..."
Zahir menunduk menantap bumi sejenak. Mengangkat kepala. Tersenyum 'sakit' kemudian melangkah pergi tanpa berucap.



"Ah, sudahlah... Semoga kamu bahagia, Gadisku," Zahir menanam pikirnya lagi. Meredam paksa luka hati dengan panjatan pinta kepada Tuhan-nya.
"Andai dahulu aku tidak pergi, sayang."
"Sungguhpun nyata janji tak mampu menali mengikat jiwamu jiwaku. Menyatu mensejiwa dalam asa."


-----------------------
Jakarta, 26 Juni 2010

Cerita di Balik Hotel Kayu

Neon alam berpijaran, bantu bintang kekasih bulan. Cara elit manusia bawah nikmati borjuisme. Menonton drama benda angkasa di teater langit, simponi merdu orkestra jangkrik, bermabuk burai jernih; setengah hotel kayu. Amboi, nikmatnya.
Jamahi malam tiap malam, kemah di bibir kubangan raksasa seraya menyetel otak dengan abi dan ama.


Malam Senin. Skenario lahap hidup.
"Tuhan baik, izinkan jantung menyala."
"Namun hidup -- mati, Ma."
"Jika ingin hidup hidup hidupi jiwa. Suapi dengan agama; susui dengan ilmu."
"....."


Malam Selasa. Skenario pesona ilmu.
"Ama, aku haus."
"Ini, silakan jamahi hakmu."
"... . Terima kasih, Ma. ... . Sekarang aku tidak haus lagi."
"Abi tidak yakin. Kamu masih sangat kehausan."
"..."
"Jiwamu. Lekas renung; berguru kepada cermin malam."
"..."


Malam Rabu. Skenario Pasar.
"Bi, cermin malam menolongku namun sirat tatapnya ancaman."
"Tawarlah tatapnya dengan hati."
"..."


Malam Kamis. Skenario Selaksa bening.
"Ma, aku takut hisapi air jiwa."
"..."
"Abi tidak pernah mengguruimu takut! Tantang duniamu, Nak!"
"Beribu manusia tenggelam, selaksa bening berubah keruh, Bi."
"Huss.. Sayang, nyalakan saja dan komandoi putih hatimu."
"..."


Malam Jumat. Skenario langit.
"Nak, gantungkan cita-citamu setinggi langit."
"Maka cita-cita akan menggantungku, Ma."
"Air jiwamu pasti membebaskan jeratnya."
"..."


Malam Sabtu. Skenario piranti dagang.
"Ma, kemarin cita-cita menggantung temanku setinggi langit."
"Tiada perlu berulah seperti dan semacamnya. Haus jiwamu membayar segala."
"..."


Malam Minggu. Skenario perang.
"Anakku, kini tantang dunia dengan otakmu. Walau bekal seadanya namun yakinlah."
"Jangan takut sebab piranti borju bukan segala."
"Terima kasih Abi. Terima kasih Ama. Nantilah aku dengan doamu bertahun datang."




Aku merindukan kalian, Abi; Ama. Sudah bertahun aku di sini menikmati kemewahan hasil bekal lampau. Aku ingin pulang mengunjungi kalian di gubuk kita lagi; mengajak hidup ala borjuisme marjinal.
Kini malamku sepi, tiada adil rasanya jika begini. Maaf, aku belum sempat datang.


-------------------------------------
Jakarta, 11 April 2010

Sia

janji?
tiada letih berucap
tiada letih mengingkar
masihkah berani? biar kupotong lidahmu

sumpah?
tiada takut bersaksi
tiada takut berdusta
masihkah berani? biar kuusir jiwamu

deklamasi ala soekarno
manuskrip imut
musikalisasi
seni bodoh

aku tidak peduli!
tidak peduli!

sia sia saja sia sia semua sia sia sia sia





 -----------------------------------

Jakarta, 19 April 2010

Minggu, 26 September 2010

Guru

Guru ajarkan rendah hati
Guru tirukan tinggi hati

(Munafik! Ini batin disayat!)
 
 
-------------------------------

Jakarta, 17 Maret 2010

Fragmen Indonesia

bunuh negeri
bunuh bangsa
menggurat darah
memburat moral

amarah kepul
mental hancur
lahap sepotong busuk fragmen basi
membilur tanah sukma
bungkus mata
hilang afeksi
gilai emosi

buru harta
buru jaya
buru singgasana

aforisme melayang
hukum mampus; terpenggal


--------------------------------

Jakarta, 26 Juni 2010

Maaf, Meragu!

Beratus pasukan detik melampau. Hasrat membunuh. Sebab intervensi: membauri bahasa, yang (telah) binasa dan memancing lenyap. Entah si Pemancing atau si Cacing, aku tidak peduli.

Topeng, topeng, topeng, letakan dihatiku. Biar racun hitam (racikan mahluk bengis) melahap sadis.
sibuk berulah
mengganti jubah
topeng
topeng
topeng
atau wajah?

"Minggir! Dokter ingin melihatnya sendiri!"

pisau bedah kunci perkara

"SAKSIKANLAH!! SAKSIKANLAH!!
MISTERI AKAN TERBEBAS ATAU BINASA"

Boleh kucabik sedikit? Sebab sangsi.



------------------------

malam ini ada tamu, yang membisik -- sedikit mengalih tahta; untaian abjad di rumah katamu (maaf, kubalas dingin)

Sabtu, 25 September 2010

Tatap Tari Mati

sangsi saya tetap sangsi menari tari mati ditatap
membungkam membisu dengan si pemati
mati mati mati hati
alangkah dungu!
tarian mati pengundang mati buktikan mati hati
diam diam bungkam bisu curi rupa

kini benar terbukti
mati hati mati mati rasa mati mati mati mati

ini belati hujamkan di sini

------------------------


Jakarta, 23 April 2010

(Kepada Pria Juru Kunci)
Tiada sia. Ia sungguh tak bernyawa.

Selasa, 13 Juli 2010

Teruntuk Adindaku

sayang..
jika sampai surat ini
mungkin ruhku sudah melayang
menghilang
hadap maha penyayang
atau mungkin
sedang berjuang di medan perang
bersama kawanan
yang mereka sebut
pembangkang

sayang..
tetaplah tenang
jaga si mungil dikandungmu tersayang

sayang..
jangan berlinang-linang
atau pun membayang
doakan saja aku dan para pejuang
selamat dan menang

doakan, sayang..
semoga aku cepat pulang
mendengar tangis awal si mungil riang

Sabtu, 26 Juni 2010

Sayang Dua Baris

Sayang.. Kau yang kusayang
Sayang.. Hatimu palsu

Sandiwara

Detik resah menanti -- namun rasa sangsi bergeming

Warna berloncatan
Sibuk lalu lalang di ventilasi otak
Jahilku meraba
Mencuri berlian asa
Tumbuhkan yang terindah
Mainkan peranmu wahai Peluka

Manusia Kertas

Sanjak Kosong
Luapi tahta mega warna-warna
Menjelma ambigu; berdongeng kisah tanpa frasa

Lihat itu gambar meringis
Lihat itu gambar menangis
Lihat itu gambar bercinta
Lihat itu gambar berkisah

Abadikan masa-masa
Memintal memori lama

Tambang Hitam

Permisi...
Tolong titipkan maafku pada bunda
Sampai jumpa!

Bunga Mawar


mawar mengadu pekat mengadu bayang mengadu bungkam
hanya bertitik
satu dua tiga empat lima enam tujuh
madu beracun
geliat manis geliat pahit
merupa merona membohong
kelam warnanya
cantik! menipu batin
makin menggila
makin ditusuk

bung bung bunga
karena duri memerih
mengiris miris bengis tipis
meracun kalut merombak pelangi

bung bung bunga
mengharu membiru
membusuki kalbu
menyampah jeroan kepala

bung bung bunga
makin cantik makin indah indah indah indah membunuh